Secara terperinci membahas mengenai pertentangan pertentangan makna dalam bahasa jawa, dengan menitikberatkan pada relasi antara serial dan daur.
Membahas tentang Afiks-afiks Ajektival Penanda Akibat dalam Bahasa Jawa
Medan makna aktifitas tangan dapat diklasifikasikan menjadi sembilan belas submedan, dengan memiliki makna tujuan.
Leksem dalam bahasa Jawa yang menyatakan aktivitas tangan semuanya didata dan diuraikan ketepatan makna dari masing-masing leksem. Dipaparkan juga berbagai jenis submedan makna yang tercakup da dalam medan makna aktivitas tangan serta menyatakan bagan hiponimi dari leksem-leksem dan sub-submedan yang menyatakan aktivitas tangan dalam bahasa Jawa.
Tulisan ini membahas sifat kesetaraan klausa dalam kalimat majemuk setara. Pembahasan terhadap sifat kesetaraan klausa ini memanfaatkan cara pandang struktural dengan keeklektikan.
Di dalam buku ajar bahasa Indonesia siswa SD kelas VI masih ditemukan adanya unsur teks dengan tingkat keterbacaan yang kurang. Dalam tataran wacana, kekurangterbacaan unsur teks itu disebabkan oleh rendahnya tingkat kesinambungan topik wacana. Berdasarkan kajian tersebut, rendahnya kesinambungan topik disebabkan oleh (1) banyaknya interferensi, (2) rendahnya kebertahanan (topik), (3) kesalahan…
Pembahasan kalimat majemuk gabung dalam penelitian ini dibatasi pada kalimat majemuk gabung yang tersusun dari tiga klausa yang dapat dikelompokkan ke dalam empat tipe, yaitu (1) gabung dalam subordinasi pada klausa utama 1, (2) gabung dengan subordinasi pada klausa utama 2, (3) gabung dengan subordinasi tak tegar, dan (4) gabung dengan subordinasi berupa gugus.
Kalimat rancu pikir mengalami penambahan proses pada tahap enkode. Penambahan ini terwujud melalui upaya pengkodean kembali atas kode bahasa Indonesia ke dalam kode yang bahasa Jawa. Tuturan-tuturan bahasa Jawa terutama pada masa akhir-akhir ini hanyalah terjemahan tuturan bahasa Indonesia.Penggunaan bahasa Jawa tidak lagi mencerminkan kekhasan pola pikir Jawa dengan berbagai kearifan lokalnya.