Kisah I Kukang merupakan cerita berbingkai, artinya cerita ini banyak dibumbui oleh cerita tambahan. Struktur ceritanya tetap mencerminkan suatu keutuhan. Jalan ceritanya mendatar dan tokoh utamanya tidak banyak mengalami konflik. Nilai budaya yang ditemukan adalah kerja keras, hemat, kekeluargaan, tanggung jawab, dan mengindahkan nasehat.
Kisah I Kukang merupakan cerita berbingkai, artinya cerita ini banyak dibumbui oleh cerita tambahan. Struktur ceritanya tetap mencerminkan suatu keutuhan. Jalan ceritanya mendatar dan tokoh utamanya tidak banyak mengalami konflik. Nilai budaya yang ditemukan adalah kerja keras, hemat, kekeluargaan, tanggung jawab, dan mengindahkan nasehat.
Kisah I Kukang merupakan cerita berbingkai, artinya cerita ini banyak dibumbui oleh cerita tambahan. Struktur ceritanya tetap mencerminkan suatu keutuhan. Jalan ceritanya mendatar dan tokoh utamanya tidak banyak mengalami konflik. Nilai budaya yang ditemukan adalah kerja keras, hemat, kekeluargaan, tanggung jawab, dan mengindahkan nasehat.
Nilai edukatif yang terkandung dalam Pappasang dapat dilakukan dari dua segi, yaitu nilai edukatif yang bernuansa keagamaan dan nilai edukatif yang bersifat sosial kemasyarakatan. Ajaran agama yang banyak menghiasi Pappasang adalah Islam. Dari segi sosial kemasyarakatan, inti nilai berkisar pada bagaimana melakukan sesuatu yang tidak bertentangan dengan norma yang berlaku
Nilai edukatif yang terkandung dalam Pappasang dapat dilakukan dari dua segi, yaitu nilai edukatif yang bernuansa keagamaan dan nilai edukatif yang bersifat sosial kemasyarakatan. Ajaran agama yang banyak menghiasi Pappasang adalah Islam. Dari segi sosial kemasyarakatan, inti nilai berkisar pada bagaimana melakukan sesuatu yang tidak bertentangan dengan norma yang berlaku
Lima tulisan yang ditampilkan, tiga penelitian membahas masalah bahasa daerah dan dua tulisan mengetengahkan sastra daerah.
Lima tulisan yang ditampilkan, tiga penelitian membahas masalah bahasa daerah dan dua tulisan mengetengahkan sastra daerah.
Sebagai sastra daerah, Kelong memiliki fungsi sebagai media pendidikan, media hiburan, media pembangkit semangat juang, media komunikasi, dan sebagai produk pelestarian budaya. Nilai yang terkandung dapat dipilah menjadi dua macam, yakni nilai pendidikan yang bersifat keagamaan dan yang bersifat kemasyarakatan.
Sebagai sastra daerah, Kelong memeiliki fungsi sebagai media pendidikan, media hiburan, media pembangkit semangat juang, media komunikasi, dan sebagai produk pelestarian budaya. Nilai yang terkandung dapat dipilah menjadi dua macam, yakni nilai pendidikan yang bersifat keagamaan, dan yang bersifat kemasyarakatan.
Dari sekian banyak Sinrilik yang tersebar di masyarakat, dua diantaranya yang dijadikan sampel dalam penelitian ini, yaitu Sinrilik I Datu Museng dan Sinrilik Kappalak Tallumbatua. Nilai kepahlawanan yang ada bukan hanya keberanian menghadapi musuh, tetapi keberanian dengan menegakkan kebenaran, mebela martabat bangsa dan negara serta kehormatan pribadi dan keluarga.