Novel itu mengisahkan suka cita anak-anak Kampung Sawah berupa semua aktivitas dan kreativitasnya dengan cara yang berbeda pada umumnya.
Buku itu berisi kumpulan biografi tokoh-tokoh pemimpin besar dunia yang dilahirkan dan dibesarkan di desa. Tempat kelahiran bukanlah penentu masa depan seseorang. Di manapun seseorang itu lahir, ia masih memiliki pilihan untuk berusaha menggapai masa depannya.
Buku itu berisi kumpulan dua puluh episode dari dua puluh judul cerita hasil sastra pengaruh peralihan Hindu Islam.
Dalam Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 para Putra-Putri Indonesia itu mengakui bertanah air satu, berbangsa satu dan menjunjung bahasa persatuan Indonesia. Bahasa Indonesia terbukti dapat dipakai sebagai alat pemersatu bangsa"