Novel-novel Jawa non-Balai Pustaka pada zaman pemerintahan kolonial berisi gagasan atau ide yang berkaitan dengan semangat kebangsaan (nasionalisme). Novel-novel tersebut sudah memakai bahasa Jawa ragam ngoko dalam pemakaian narasi cerita. Hal itu terjadi sebagai salah satu reaksi otoritas bahasa Jawa ragam krama yang diproduksi oleh penerbit Balai Pustaka.
Penelitian ini bertujuan mengungkapkan berbagai fungsi yang tercermin dalam karya sastra (roman) Indonesia di luar penerbitan Balai Pustaka dan ciri-ciri khususnya, yang terbit tahun 1917-1942.
Penelitian ini bertujuan mengungkapkan berbagai fungsi yang tercermin dalam karya sastra (roman) Indonesia di luar penerbitan Balai Pustaka dan ciri-ciri khususnya, yang terbit tahun 1917-1942.
Penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran yang jelas dan utuh tentang sastra Jawa modern terbitan Balai Pustaka, khususnya buku bacaan berupa prosa.
Dalam Buku itu dideskripsikan antara lain: 1. diakronis pertumbuhan dan perkembangan novel-novel Indonesia tradisi Balai Pustaka sebagai suatu kontinuitas yang bersistem, 2. sinkronis posisi novel-novel Indonesia tradisi Balai Pustaka dalam struktur hierarkis sistem sosial novel-novel sezaman, 3. sistem semiotik sastra yang dominan dan menjadi salah satu faktor pertumbuhan novel-novel Indonesia…
Buku ini terdiri dari 5 bab, mebicarakan sastra awal, sastra Balai Pustaka, sastra Pujangga Baru, sastra angkatan 45, dan sastra generasi kisah.