Frasa dalam Bahasa Jawa Etnis Bali dapat dibedakan menjadi enam macam, yaitu frasa nominal, frasa verbal, farsa adjektival, frasa preposisional, frasa numeral, dan frasa keterangan atau adverbial. Dalam tataran sintaksis para penutur etnis Bali itu cenderung dalam tuturannya menghindari bentuk-bentuk yang polimorfemik. Mereka lebih produktif menggunakan bentuk monomorfemik dalam pengucapannya.
Buku Manusia Jawa Mencari Kebeningan Hati: Menuju Tata Hidup Tata Laku-Tata Krama ini berisi penjelasan mengenai pencerminan cerita wayang, tuntunan moral-akhlah dan budipekerti, dan lain-lain.
Membahas tentang kebudayaan Jawa yang sangat berpengaruh dalam membentuk watak dasar manusia Jawa. Sebagai unsur watak dasar, maka dapat diamati pengaruhnya pada tata tutur serta perilakunya.
Buku itudi samping berisi kumpulan karangan Niels Mulder yang semula telah diterbitkan dalam majalah Basis dan penerbitan Fakultas Sosial dan Politik UGM juga karangan baru mengenai metodologi bagi penelitian masyarakat serta analisis sosiologis masyarakat Jawa.
Buku ini merupakan terjemahan dari Political Thinking The Indonesian Chinese 1900 - 2002 yang mengungkap dengan panjang lebar tentang pemikiran politik etnis Tionghoa di Indonesia dari tahun 1900 - 2002.""
Buku itu berisi uraian ketegangan di antara orang-orang Jawa yang sedang mengalami ketegangan antara untuk setia kepada nilai-nilai (luhur) yang diwariskan nenek moyangnya dan pilihan praktis untuk mempertahankan hidupnya di era pasar bebas yang penuh persaingan.
Buku itu mengupas sistem dan mekanisme pertalian keluarga Jawa.
Makalah ini membahas tentang etnis Pappaseng Bugis di Sumbawa yang masih bertahan di tengah hegemoni etnis pribumi. Adanya pergeseran wilayah dari wilayah asli ke wilayah asing (Samawa, Sumbawa) tidak diikuti oleh pergeseran bentuk bahasanya karena Pappseng dijadikan sebagai salah satu sarana untuk mempertahankan identitas itu sebagai etnis (bahasa dan budaya) Bugis di tengah hegemoni identitasā¦