Dalam buku itu diuraikan kosmologi Jawa dalam bingkai simbolisme pewayangan, yaitu semar yang menjelma Sang Hyang Ismoyo, seorang dewa yang menjaga keselarasan alam dengan menegakkan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan.
Buku ini menguraikan kandungan khasanah pewayangan mulai dari filosofi religius spiritual hingga simbolisasi perwatakan manusia di dalamnya, meliputi karakter beberapa tokoh utama pewayangan dari babad Ramayana dan Mahabharata, laki-laki dan perempuan.
Buku ini adalah penyempurnaan dari skripsi Budiono, terdiri dari 5 bab, membicarakan tentang kebudayaan dan simbolisme, riwayat singkat suku bangsa Jawa, filsafat hidup orang Jawa, tindakan-tindakan simbolis orang Jawa, dan perkembangannya lebih lanjut.
Buku itu merupakan catatan dari pengalaman penulis (Tjaroko HP Teguh Pranoto) selama menjalani laku batin sejak tahun 1960 melakukan hubungan secara ghaib dengan Kaki Semar.
Buku tersebut memberi petunjuk dan ajaran pada umat manusia supaya melakukan kebajikan di dalam hidupnya, senyampang kesempatan masih terbuka seluas-luasnya.
Dalam buku itu berisi gambaran tentang proses pergulatan manusia Jawa dalam mencari jati dirinya sebagai manusia dan Sangkan Paraning Dumadi atau sang Pencipta yang berbeda dengan tradisi Budha dan barat
Berisi tembang
Ngelmu Bimosuci secara kritis mampu men"