Novel ini hendak menegaskan sekaligus mendegresi pemahaman bahwa priyayi hanya dapat diperoleh dari bibit (keturunan). Di zaman modern, pendidikan dan pekerjaanlah yang menetukan kepriyayian seseorang. Semangat pengabdian serta kesediaannya memperhatikan nasib wong cilik memantapkan ketulenan priyayi.
Buku itu berisi masa lalu komunitas Tionghoa yang merupakan sesuatu yang integral dalam sejarah masyarakat dan kebudayaan Jawa atau Indonesia. Pengasingan Tionghoa dari Jawa yang terus berlanjut merupakan sebuah rekayasa politik dan bukan realitas sejarah.Bagi komunitas Tionghoa di Surakarta, Tionhhoa dan Jawa adalah dua hal yang tidak bisa dibedakan dan dipisahkan sebagai sebuah identitas.