Penelitian ini melukisksn hakikat bahasa yang terjadi di dalam pertunjukan wayang kulit, terutama dilihat dari segi bentuk, struktur, fungsi, dan maknanya.
Membahas mengenai Eufimisme dalam bahasa jawa, meliputi arti eufimisme sendiri, bentuk bentuk nya, makna yang terkandung di dalamnya, teknik, dll.
Keutuhan paragraf dalam wacana ilmiah bahasa Jawa terbentuk oleh adanya kesinambungan topik. Kesinambungan topik itu dapat diwujudkan dengan enam cara, yaitu substitusi, repetisi, demonstrative, hiponimi, sinonimi, dan elipsis. Untuk cara substitusi dapat dipilah lagi, yaitu substitusi dengan pronomina dan substitusi dengan konstituen yang senilai.
Konjungsi antarparagraf adalah kata atau kelompok kata yang bertugas menghubungkan paragraf yang satu dengan paragraf yang lain pada bagian wacana. Konjungsi antarparagraf dalam bahasa Jawa sekurang-kurangnya menyatakan tujuh hubungan makna, yaitu hubungan makna penambahan, perlawanan, penegasan, sebab, akibat, perturutan, dan pengakhiran.
Ditinjau dari segi strukturnya, frase nominal, tipe nomina + nomina dapat digolongkan menjadi (1) nomina dengan atribut tunggal, (2) nomina dengan atribut nomina rangkap sosial, (3) nomina dengan atribut rangkap terkandung, (4) nomina dengan aposisi sebagai atribut, dan (5) nomina dengan atribut penggolong. Jika ditinjau segi hubungan makna, antar inti dan modifikator frase nominal tipe nom…
Afiks penanda dalam bahasa Jawa dapat digolongkan dalam tiga kelompok, yaitu (1) afikis penanda pelaku profesi yang dapat dinyatakan dengan afiks pa-, pe-, pa(N)- dan -wan, - wait atau -man, (2) afiks penanda pelaku tindakan yang dapat dinyatakan dengan afiks pa(N)-, konfiks pa-/-an, dan pa(N)-/-an, dan (3) afiks penanda pelaku yang dapat dinyatakan dengan afiks –wan.
Ditemukan seratus empat buah leksem verbal yang mempunyai konsep aktifitas kaki. Leksem tersebut dikalsifikas berdasar komponen makna yang memiliki kesamaan, sehingga membentuk sub-sub medan yang lebih kecil.