Novel itu menceritakan babak demi babak pergolakan politik Indonesia tahun 1965. Dikisahkan seorang gadis, anak dedengkot masyumi yang harus berjuang sendiri membebaskan ayah dan kekasihnya yang ditahan oleh Partai karena menentang haluan ideologi partai.""
Buku ini berisi kumpulan cerpen karya Moh. Diponegoro, antara lain : Penderita Cacat, Keroyokan, Bunuh Diri, Cerai, Aib, Lamaran, dan lain-lain.
Novel ini mengisahkan percintaan antara Abdul Mughits dan Malika, yang mengandung nilai-nilai islami di dalamnya.
Buku ini mempunyai obsesi untuk mengungkap sumbangan budaya lokal bagi proses demokrasi. Kekayaan budaya lokal yang ada di nusantara merupakan asset yang mampu mendongkrak buku ini untuk menempati posisi strategis dalam khasanah keilmuan, khususnya yang membahas persoalan demokrasi dan demokratisasi di Indonesia. Buku ini juga mampu mengungkap secara komprehensip sumbangan budaya lokal dalam pr…
Buku ini mempunyai obsesi untuk mengungkap sumbangan budaya lokal bagi proses demokrasi. Kekayaan budaya lokal yang ada di nusantara merupakan asset yang mampu mendongkrak buku ini untuk menempati posisi strategis dalam khasanah keilmuan, khususnya yang membahas persoalan demokrasi dan demokratisasi di Indonesia. Buku ini juga mampu mengungkap secara komprehensip sumbangan budaya lokal dalam pr…
Berisi kumpulan esai yang isinya dibagi dalam empat bagian, yaitu bagian pertama berjudul Kekasih Bernama Yogya, yang menyoroti tentang sosial; bagian kedua berjudul Ballada Negeri Siluman, yang membicarakan keadilan; bagian ketiga berjudul Duka di Rantau, yang membicarakan mengenai seni; dan keempat berjudul Kebudayaan, yang, Semoga Hilang, yang menyoroti tentang kebudayaan.
Berisi kumpulan esai yang dibagi atas empat bagian, yaitu bagian pertama berjudul Kekasih Bernama Yogya, yang menyoroti tentang sosial, bagian kedua berjudul Ballada Negeri Siluman, yang membicarakan keadilan, bagian ketiga berjudul Duka di Rantau, yang membicarakan mengenai seni, dan keempat berjudul Kebudayaan, yang, Semoga, Hilang, menyoroti tentang kebudayaan.
Kesantunan berbahasa menekankan pentingnya 'tahu bahasa' yakni tidak hanya mengetahui sistem bahasa, tetapi juga budaya dalam kalangan penuturnya, yang terangkum dalam aspek teori dan praktis, serta merujuk juga pada aspek kesantunan berbahasa di negara lain.