Serat Asmarasupi 2 ini berbentuk tembang berbahasa Jawa dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Awal teks pupuh 1 Pangkur (hlm. 261)//Ya ta wus gagad rahina//kanang arka prabanira wus mijil//kang mega reta kadulu//...dan seterusnya.
Buku ini berisi tentang cerita kepemimpinann seorang Gurwakanda yang diikuti oleh para lurah desa gendera serta Ki Anggendara, Jaladara, dam Ki Mangundara.
Buku ini berisi tentang cerita Ki Temenggung Jayaningrat yang memimpin Kartasura. Dalam cerita tersebut diceritakan juga mengenai perjalanannya ke tanah Jawa.
Buku ini berisi hasil alih aksara dan ringkasan sebuah karya sastra Jawa berbentuk tembang karya Raden Ngabehi Sasradipraja pada tahun 1853 M, dengan mengutip Serat Babad milik raja di Surakarta; merupakan lanjutan dari Babad Pacina IV.
Buku ini berisi hasil alih aksara dan ringkasan sebuah karya sastra Jawa berbentuk tembang karya Raden Ngabehi Sasradipraja pada tahun 1853 M, dengan mengutip Serat Babad milik raja di Surakarta; merupakan lanjutan dari Babad Pacina III.
Buku ini berisi hasil alih aksara sastra lama yang berupa lagu yang ditembangkan. Lebih lanjut dalam buku itu isinya dijelaskan mengenai gender laras salendro, dan lain-lain
Serat Pesindhen Badhaya ini berisi 10 naskah yang telah dialihaksarakan oleh Moelyono Sastronaryatmo ada delapan judul, sedangkan yang dua judul dialihaksarakan oleh Soekatmo. Berisi antara lain nyanyian durma 3 bait yang menceritakan perihal Jayengsekar berangkat dengan prajurit-prajuritnya.
Buku Serat Jatiswara ini merupakan hasil karya sastra daerah yang berbentuk tembang macapat yang mengisahkan mengenai Jatiswara. Pada awal tembang dimulai Dhandhanggula pada halaman 7, kemudia di awal kalimat diawali dengan / Kang sinawung ing sarkara niti/ wonten dhinapur saking hikayat.
Buku ini berisi kumpulan Ila-Ila yang masih kukuh berlaku dengan segala penjelasannya, sehingga dengan nalar dapat dirasakan mengapa adat daerah Jawa masih dipertahankan. Misalnya, dalam upacara pernikahan, dalam tata rakit panggih temanten besan tidak lazim menghadirinya. Serat Babad Ila-Ila 1 berisi tentang Bab Agama sampai dengan Perhitungan Hari-Bulan-Mangsa dan Windu.
Serat Babad Ila-Ila 2 berisi kumpulan data Ila-Ila yang masih kukuh berlaku dengan segala penjelasannya, sehingga dengan nalar dapat dirasakan mengapa masih dipertahankan adat Jawa. Misalnya, dalam upacara pernikahan dalam tata rakit panggih temanten besan tidak lazim turut menghadirinya. Kelazimannya"