Martabat tujuh mengajarkan bahwa segala yang ada dalam alam semesta, termasuk manusia, adalah aspek lahir dari suatu hakikat yang tunggal yaitu Tuhan. Tuhan sebagai zat yang mutlak tidak dapat dikenal dan dikhayalkan. Zat mutlak ini baru dapat dikenal setelah bertajalli (menampakkan diri keluar) sebanyak tujuan martabat sehingga tercipta alam semesta beserta isinya.