Makalah ini mendeskripsikan jenis, makna, fungsi mitos yang terkandung dalam sastra lisan Panggolaran di Sumsel dalam pesta perkawinan melalui pemaknaan semiotika dengan pendekatan hermeneutik.
Dalam makalah itu diidentifikasi dan dianalisis simbol-simbol kultural yang bersumber dari teks pantun bilingual (dwibahasa) Melayu-Makassar yang ditulis oleh seorang keturunan Cina (Ang Bang Tjiong). Simbol-simbol ysng diidentifikasi adalah simbol-simbol yang berazaskan pada trilogio Peirce, yaitu indeks, ikon, dan simbol.
Makalah ini membahas konsep relasi kuasa budaya terjajah dan penjajah dalam novel Ca Bau Kan, yang menurut peneliti mengalami perubahan makna.
Makalah ini mendeskripsikan bagaimana puitika surat dalam karya sastra dan bagaimana signifiant 'surat' digunakan oleh Umar Kayam, Budi Darma, dan Putu Wijaya dalam mencipta karya kreatifnya.
Makalah ini mengkaji kearifan lokal dalam Ronggeng Dukuh Paruk dan bertujuan mengungkapkan dimensi kearifan lokal melalui kajian stilistika dan pendekatan semiotik.
Buku itu berisi khazanah pemikiran suatu ilmu.
Buku itu berisi tulisan-tulisan yang merupakan amalgam atas pemahamannya terhadap linguistik Saussure, yang poin awal eksplorasinya terhadap semiologi, kepiawaiannya menganalisis sistem-sistem tanda yang bernuansa sosiologis serta pemahamannya terhadap Marxisme yang mempengaruhi sebagian besar tulisan-tulisannya.
Dikaji mengenai bahasa sebagai arena pertarungan, pembakuan petanda, perlawanan petanda, dan bahasa sebagai alat kekuasaan.
Buku itu terdiri dari 4 bab yang membicarakan mengenai bahasa sebagai wacana, perkataan dan tulisan, metafora dan simbol, serta eksplanasi dan pemahaman.
Full-text