Novel ini menyajikan dua hal perspektif baru, yaitu pertama, konteks sufisme yang prototipenya bisa dirujuk ke Sunan Kalijaga, Syaikh Siti Jenar hingga ke ajaran tasawuf Ibn `Arabi. Kedua, secara epistemologis, sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu atau sering disebut juga dengan Sastra Hajendra Pangruwat Diyu/ilmu spiritual.
Novel ini mengolah 'rindu' sedemikian rupa ke dalam kisah dua sejoli yang saling memberi, menerima, dan mengikat unsur indrawi dengan realitas yang lebih tinggi, menyingkap sisi insaniah menuju dimensi ilahiyah.
Novel ini merupakan novel cinta sekaligus novel dakwah yang mencerdaskan dan sarat hikmah.
Novel ini merupakan novel cinta sekaligus novel dakwah yang mencerdaskan dan sarat hikmah, lanjutan dari 'Ketika Cinta Bertasbih 1'.
Novel ini mengolah 'rindu' sedemikian rupa ke dalam kisah dua sejoli yang saling memberi, menerima, dan mengikat unsur indrawi dengan realitas yang lebih tinggi, menyingkap sisi insaniah menuju dimensi ilahiyah.
Novel religi mengenai kisah cerita tentang yusuf dan zulaicha