Berisi 20 tembang yang menjelaskan tentang kehidupan manusia dengan sifat baik dan buruknya.
Menceritakan percakapan antara orang tua (wredha) dan orang muda (mudha) tentang ilmu kesaktian dan ilmu kesempurnaan hidup. Mudha bercerita, ia pernah memasang susuk berlian dan emas agar kelihatan tampan. Wredha mengatakan bahwa perbuatan tersebut tidak dibenarkan, karena ketampanan, mati dan hidup manusia itu merupakan takdir Tuhan.
Berisi 9 bab tentang penjelasan dasar dan prinsip kehidupan manusia, yaitu: 1. Bab Roh Kaliyan Badan, 2. Bab Badan Kasar, 3. Bab Badan Kaping Kalih, 4. Bab Badan Kaping Tiga, 5. Bab Badan Kaping Sekawan, 6. Bab Badan angka Gangsal, 7. Bab Badan Angka Nenem, 8. Bab Badan Panyipta, dan 9. Bab Sejatinipun Pawakan
Buku ini merupakan salah-satu hasil dalam rangkaian penelitian di Indonesia yang telah dimulai setahun setelah proklamasi kemerdekaan.
Buku itu mengulas kearifan-kearifan leluhur Jawa dalam melihat tanda alam, kearifan dalam menggapai tujuan, kearifan saat didzalimi, kearifan saat lupa diri, kearifan saat menghadapi cobaan, dan kearifan dalam memimpin.
Dalam makalah itu dijelaskan filsafat ha na ca ra ka yang berkaitan dengan aspek-aspek lima butir sila pancasila. Ha na ca ra ka sebagai konsep atau ide ajaran kearifan Jawa bersumber dari karya Susastra Jawa, berlandaskan keluhuran cipta, budi, rasa, dan karsa yang menjilma ke dalam konsep pakarti berketahanan budaya bangsa.
Makalah ini berusaha memadukan teori-teori falsafah bahasa, memahami aspek falsafah bahasa dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa di sekolah menengah, meninjau sejauh mana pengaplikasian falsafah pendidikan bahasa di sekolah menengah, dan merumuskan strategi bagi peningkatan falsafah pendidikan bahasa dalam konteks reformasi pendidikan negara.