Cerita ini menggambarkan sosok pemimpin yang mendapat kepercayaan penuh dan berwibawah. Dari cerita ini dapat ditanamkan budi pekerti seorang Pemimpin yang bijaksana, dan selalu memperhatikan kesejahteraan rakyatnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui amanat yang ada dalam Hikayat Galuh Digantung (karya sastra klasik) serta meninjau sarana kesastraan yang menunjang penyampaian amanat tersebut.
Penelitian bertujuan menyajikan deskripsi naskah dan macam-macam versi hikayat Iskandar zulkarnain untuk menafsirkan dan menilai resepsinya dalam rangka sejarah sastra melayu, memahami dan merunut proses penciptaan teks-teks melayu penyambut hikayat Iskandar Zulkarnain, dan menyajikan salah satu teks individual hikayat itu dalam bentuk teks suntingan.
Buku tersebut berisi dua belas judul hikayat berbentuk tembang, antara lain: 1) Kureh Pari Peuseutot Lumpoe, 2) Seulindang Deulima di Gunung Peuranta Nila, 3) Kureh Pari lam Rimba Raya dan seterusnya.
Hikayat Kanca Mara 2 menceritakan kisah kelanjutan dari Hikayat Kanca Mara I, dimana pada buku kedua ini diceritakan bagaimana Tajussalim mati karena perintahnya sendiri.
BUku jilid 1 ini menceritakan tentang kehidupan raja-raja zaman dahulu dengan berbagai kesaktian dan di selang seling dengan peperangan memperebutkan puteri.
Buku tersebut berisi tentang suasana dan kejadian-kejadian yang ada di Negeri Indra Sarah. Hikayat Gajah Tujoh Ulee ini ditulis dengan huruf Arab bahasa Aceh.
Buku ini mengisahkan kelahiran Mara Karma yang berasal dari keluarga miskin, namun karena keberuntungan yang menyertainya, ayah Mara Karma mendapat harta karun yang kemudian dia gunakan untuk membangun kerajaan, namu kebahagiaan tidak berselang lama, penderitaan Mara Karma dimulai dengan diusirnya dia dari kerajaan karena penafsiran dari ahli nujum kerajaan.
Menceritakan Raja Syaif Zulyazan yang saat masih kecil bernama Wahsa Alfalah. Ia memerintah Negeri Medinah Ahmarah dengan adil dan bijaksana