Penggunaan Bahasa Jawa dengan stratifikasi tuturannya menjadi masalah utama dalam penelitian ini. Oleh karena itu, penelitian ini mendeskripsikan, menganalisis, dan menginterpretasikan pola, kesantunan, serta fungsi dan makna penggunaan tingkat tutur bahasa Jawa oleh masyarakat tutur Jawa dalam komunikasi sehari-hari.
Bentuk daya bahasa yang dapat menimbulkan kesantunan berbahasa hakim dalam penelitian ini meliputi daya bahasa pertanyaan, daya bahasa peringatan, daya bahasa permintaan, dan daya bahasa larangan yang dilontarkan hakim kepada terdakwa tilang. Bentuk daya bahasa yang paling banyak digunakan hakim dalam sidang pelanggaran lalu lintas adalah daya bahasa peritah.
Wujud strategi kesantunan berbahasa pada masyarakat Banjar meliputi memperhatikan apa yang dibutuhkan atau disukai lawan tutur, menggunakan solidaritas atau identitas kelompok melalui sapaan atau jargon, menawarkan atau menjanjikan sesuatu, menghindari ketidakcocokan, dan melucu.
Dalam acara Badatang "melamar" terdapat penerapan maksim kebijaksanaan, maksim kedermawaan, maksim penghargaan, maksim kesederhanaan,maksim permufakatan, dan nmaksim kesimpatisan. Dalam acara ini juga terdapat penanda kesantunan, yaitu menyampaikan ucapan terima kasih, harapan positif, memberi pujian, merendahkan diri, memberi persetujuan, meminta maaf, dan memaklumi keadaan.
Mendeskripsikan prinsip-prinsip kesantunan berbahasa yang dipatuhi dan dilanggar pada wacana "Surat Ananda" di majalah Ummi.
Memaparkan hasil temuan yang diperoleh dalam penelitian yang berupa gambaran tentang bentuk tuturan yang berkaitan dengan pemakaian prinsip-prinsip kesantunan bahasa antara lain prinsip tata krama/kesantunan dan faktor-faktor sosial dalam bentuk bertutur.
Penelitian ini membahas tentang bagaimana kesantunan berbahasa dalam Buku Cerita Urang Banjar: Anak-Anak Seribu Sungai Jilid 5.
Kajian ini bersifat kontemporari dan memberi fokus kepada tahap kesantunan berbahasa bahasa Melayu mengikut nilai-nilai yang dibina berdasarkan Asmah Hj. Omar dan beberapa pendapat sarjana-sarjana bahasa Melayu.
Terdapat dua subfokus yang dikaji dari perspektif kesantunan Brown dan Levinson (1987), yaitu (a) penggunaan strategi kesantunan positif dalam wacana dialog di TV dan (b) penggunaan strategi kesantunan negatif dalam wacana dialog di TV.
Makalah ini meninjau aspek kesantunan bahasa dalam kalangan pelajar Institusi Pengajian Tinggi (IPT) di Malaysia, khususnya dari sudut etnik dan gender. Data dianalisis menggunakan kaidah Discourse Completion Test (DCT) yang disesuaikan dengan Bebee et al. dan Nelson et.al (2002).