Bagian kamus Idonesi - Tionghoa mengandung lema dari kata dasar 16.162 buah dan sub lema dari kata berimbuhan 14.401 buah. Sedangkan pada bagian kamus Tionghoa - Indonesia mengandung lema dari karakter tunggal 4.297 buah dan sub lema dari karakter majemu 17.661 buah.
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis gaya stilistika puisi Ciam Si dan mendeskripsikan unsur kealaman budaya Tionghoa dalam Ciam Si: Puisi-puisi Ramalan
Buku ini merupakan terjemahan dari Political Thinking The Indonesian Chinese 1900 - 2002 yang mengungkap dengan panjang lebar tentang pemikiran politik etnis Tionghoa di Indonesia dari tahun 1900 - 2002.""
Buku ini mengulas arsitektur Tionghoa dan perkembangan kota di pulau Jawa pada umumnya secara mendalam.
Makalah ini meneliti pola unsur suprasegmental nada bahasa Tionghoa yang diujarkan orang Surabaya dengan bahasa Ibu mereka bukan bahasa Tionghoa.
Makalah ini memaparkan pemakaian antroponimi Indonesia, nama Tionghoa, dan nama gabungan keduanya dalam obituari; mengungkap antroponimi keturunan Tionghoa yang melebur dalam budaya setempat (Jawa, Sunda, dsb.); serta mengungkap kebertahanan antroponimi keturunan Tionghoa.
Masalah yang dirumuskan dalam tulisan ini adalah bagaimana pemikiran penulis peranakan Tionghoa terhadap masyarakat pribumi periode c. 1900-1945. Selain itu, juga membawa implikasi seperti faktor-faktor yang menyebabkan munculnya pemikiran tersebut dan posisi penulis dalam menghadapi situasi sosial dan budayanya.
Cerita ini mengisahkan kesetiaan cinta antara San Pek dan Eng Tay serta emansipasi Eng Tay (sebagai perempuan ia menyamar sebagai laki-laki agar dapat bersekolah, ia gigih memperjuangkan hak-hak dan kewajibannya.
Dibahas masalah kritik sastra peranakan Tionghoa dari segi ideologi yang hegemonik, sehingga penelitian tersebut difokuskan pada pola penilaian sastra, perkembangannya, konteks ideologi yang mempengaruhi pola penilaiannya, dan konteks sosial ideologis general yang mempengaruhi kerangka ideologi kesastraannya.