Novel Jawa ini menceritakan perjuangan anak desa yang pendidikannya hanya sampai SMP. Dia, baik di desa maupun di kota selalu membuat keadaan menjadi panis. Akhir cerita, anak tersebut justru bisa menjadi pengayom di sekitarnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan kalimat imperatif bahasa Jawamasyarakat Kodya Semarang.
Buku Kridha Sastra Jawa (Wayang Bertato) ini berisi mengenai tokoh wayang yang mempunyai ciri khas masing-masing yang disertai dengan penjelasan dan tembang.
Dalam buku Serat Wirid Wejangan Wali 8 berisi wejangan Wali 8 yang mengandung makna filosofi.
Cinencang Lawe merupakan novel berbahasa Jawa yang menceritakan lika-liku kehidupan tokoh utama yang banyak ujian dan godaan yang tidak bisa dihindari.
Buku Langendriya Panji Wulung Pergi ke Majapahit ini berisi tentang ringkasan cerita prabu Panji Wulung, Raden Menak. Adapun judul-judulnya antara lain Prabu Panji Wulung utusan nglamar Dewi Sekati, Prabu Panji Wulung Gandrung-Gandrung, Utusan Majapahit angsal damel, dipun begal Raden Panji Kusuma dan lain sebagainya.
Babad Giyanti itu menceriterakan tentang palihan negari (pembagian wilayah kerajaan) usai Perjanjian Giyanti. Cerita tersebut dimulai dari keterangan ketika Sultan Hammengkubuwana 1 bertahta dan tinggal (sementara) di Giyanti untuk membangaun gapura sebagai tempat bertemu antara Sultan dan Gubernur di Semarang.
Isi Babad itu antara lain menceritakan tentang penobatan Pangeran Mangkubumi menjadi sultan di Yogyakarta dengan gelar Kangjeng Sultan Hamengkubuwana (1), pembagian wilayah Surakarta dengan Yogyakarta, penumpasan pemberintakan Pangeran Mangkunegara dengan isterinya, dan nertahtanya Sultan Hamengkubuwana II di Yogyakarta.