Buku ini berisi hasil alih aksara dan ringkasan sebuah karya sastra Jawa berbentuk tembang karya Raden Ngabehi Sasradipraja pada tahun 1853 M, dengan mengutip Serat Babad milik raja di Surakarta; merupakan lanjutan dari Babad Pacina II.
Serat Yadnya Susila merupakan karya sastra daerah Jawa, yang berasal dari Rekso Pustaka Mangkunagaran. Jalan cerita Yadnya Susila berawal dari Negeri Cina, Bangsa Jepang, Bangsa Hindu, Bangsa Arab, Bangsa Eropa, Bangsa Jawa dan lain sebagainya
Buku ini berisi tembang macapat disertai dengan terjemahan yang menceritakan tentang Keraton Pajang. Dimulai dengan lagu Dandanggula , 30 bait.
Serat Babad Ila-Ila 3 berisi kumpulan data Ila-Ila yang masih kukuh berlaku dengan segala penjelasannya, sehingga dengan nalar dapat dirasakan mengapa masih dipertahankan adat Jawa. Misalnya, dalam upacara pernikahan dalam tata rakit panggih temanten besan tidak lazim turut menghadirinya. Serat Babad Ila-Ila 3 berisi tentang bab pelana gajah, pasar, (Waril) dan Wulang-wulang sampai dengan bab I…
Berisi tembang puji-pujian yang melambangkan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa
Isi keseluruhannya merupakan suri-tauladan atas kejadian yang diderita oleh keluarga Pandawa, khususnya sehubungan peristiwa permainan judi (permainan dadu) yang dilakukan Puntadewa, sehingga membawa akibat menerima hukuman 12 tahun harus berdiam di hutan, 1 tahun berdiam di suatu negara. Jika ketahuan oleh Kurawa, selama itu pula mereka harus mengulang lagi dari permulaan.
Buku ini berisi tembang-tembang Jawa berupa dhandanggula, kinanthi, sinom, maskumambang, mijil, pangkur, dan sekar ageng bangsapatra (halaman 7 - 129) dan terjemahan pada halaman 130 - 244.
Buku Srikarongron 1 itu berisicerita mengenai perjalanan Sri Susuhunan Pakubuana X ke berbagai daerah di Jawa Tengah, dan terakhir berkunjung ke Yogyakarta untuk bertemu dengan Sri Sultan Hamengkubuana.
Babad Mangkubumi ini merupakan lanjutan dari buku Babad Nitik Ngayogya. Buku tersebut menceritakan peristiwa pemisahan Kangjeng Pangeran Mangkubumi dari kerajaan Surakarta, perlawanan terhadap Surakarta dan pemerintah Hindia Belanda, sampai akhirnya bertahta sebagai Kangjeng Sultan Hamengkubuwono I di Yogyakarta.