Dalam kurun waktu tahun 1840--1917, masa transisi sastra Jawa berada diantara dua rentetan perkembangan sastra Jawa modern. Terbitan bahan bacaan berbahasa Jawa terus berlanjut ditunjang pula dengan terbitnya surat kabar. Pada masa itu terjadi peningkatan sumber daya manusia ditunjang pula berdirinya beberapa percetakan dan penerbit sehingga terbentuk suatu jaringan karya sastra.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran yang jelas keadaan sastra Jawa dan lingkungan pendukungnya pada masa tersebut.
Dibahas latar belakang sosial budaya, keadaan bahasa, pemakaiannya, ciri-cirinya, peta kosakata, fonologi, morfologi, dan penganalisisan peta bahasa
Dalam penelitian itu dideskripsikan antara lain, dinamika sosial-budaya dan sistem lingkungan sastra, bentuk dan tema puisi Jawa modern di Yogyakarta 1945--1975.
Buku ini berisi kumpulan tulisan untuk menghormati 3 orang peneliti Balai Bahasa Yogyakarta yang memasuki purna Tugas (DR Wedhawati, Drs, Adi Triyono, M. Hum., dan Drs. Sukardi).
Buku Kridha Sastra Jawa (Wayang Bertato) ini berisi mengenai tokoh wayang yang mempunyai ciri khas masing-masing yang disertai dengan penjelasan dan tembang.
Dalam buku Serat Wirid Wejangan Wali 8 berisi wejangan Wali 8 yang mengandung makna filosofi.
Babad Giyanti itu menceriterakan tentang palihan negari (pembagian wilayah kerajaan) usai Perjanjian Giyanti. Cerita tersebut dimulai dari keterangan ketika Sultan Hammengkubuwana 1 bertahta dan tinggal (sementara) di Giyanti untuk membangaun gapura sebagai tempat bertemu antara Sultan dan Gubernur di Semarang.
Faktor Kebahasaan, Struktural Dinamik