Buku ini bersumber dari karya sastra Jawa berbentuk tembang karya Baginda Raja Pakubuwana IX (Raja Surakarta) berisi ajaran agama islam yang disusun dalam bentuk cerita agar dapat dijadikan teladan.
Buku ini berisi tembang-tembang Jawa berupa dhandanggula, kinanthi, sinom, maskumambang, mijil, pangkur, dan sekar ageng bangsapatra (halaman 7 - 129) dan terjemahan pada halaman 130 - 244.
Menceritakan kebahagiaan Raja Jenggala melihat Dewi Sekartaji atau Dewi Candrakirana telah kembali, meski sudah berubah wajahnya. Peristiwa ini tidak membuat hati Raden Panji berpaling, tetapi malah merasa iba pada istrinya.
Buku Srikarongron 3 ini menceritakan Sri Susuhunan yang hendak melakukan sutau perburuan.
Buku ini menceritakan tentang istana Kasunanan yang perlu diperbaiki serta adanya perbaikan bangun-bangunan lainnya. Selian itu, ,asih perlu adanya perbaikan mengenai lingkungan istana dan sekitarnya.
Buku Srikarongron 1 itu berisicerita mengenai perjalanan Sri Susuhunan Pakubuana X ke berbagai daerah di Jawa Tengah, dan terakhir berkunjung ke Yogyakarta untuk bertemu dengan Sri Sultan Hamengkubuana.
Buku itu berisi delapan subjudul cerita, yaitu 1. Kawanguran Anggenipun Lampah Ngiwa, 2. Kelampahan Dipun Wayuh, 3. Biyung Kuwalon lan Biyungipun Piyambak, 4. Gesang saking Budidayanipun Piyambak, 5. Sukarto Dados Saradadu, 6. Wewah Prih Atosipun, 7. Subagyo lan Adi-Adinipun. 8. Woh ing Pandamel.
Kamus Lengkap Peribahasa Jawa--Indonesia ini memuat 1600 entri peribahasa Jawa dan ditafsir ulang maknanya ke dalam bahasa Indonesia.
Babad Mangkubumi ini merupakan lanjutan dari buku Babad Nitik Ngayogya. Buku tersebut menceritakan peristiwa pemisahan Kangjeng Pangeran Mangkubumi dari kerajaan Surakarta, perlawanan terhadap Surakarta dan pemerintah Hindia Belanda, sampai akhirnya bertahta sebagai Kangjeng Sultan Hamengkubuwono I di Yogyakarta.