Transliterasi Kancil Amongpraja dikemukakan pelajaran kesempurnaan hidup "relijiusitas" bagi kehidupan manusia.
Transliterasi Serat Gatholoco-Dewaruci ini membahas permasalahan seseorang yang dituakan. Diawali dari Dhandhanggula pada halaman 1 yang dimulai dari /(h.2)Mashuring mring swarjana myang resi/ sugun-sugun kare karena ukara.
Babad Giyanti itu menceriterakan tentang palihan negari (pembagian wilayah kerajaan) usai Perjanjian Giyanti. Cerita tersebut dimulai dari keterangan ketika Sultan Hammengkubuwana 1 bertahta dan tinggal (sementara) di Giyanti untuk membangaun gapura sebagai tempat bertemu antara Sultan dan Gubernur di Semarang.
Dalam Walisono II ini lanjutan ari Walisono I ini diceritakan mulai dari tanya jawab antara Seh Mlaya dengan Seh Maulana Magribi mengenai adanya Tuhan dan diakhiri sampai dengan Wali Sanga salat di Mekkah.
Dalam naskah Walisono I diceritakan mulai dari tanya jawab antara Seh Mlaya dengan Seh Maulana Magribi mengenai adanya Tuhan dan diakhiri sampai dengan Wali Sanga salat di Makkah.
Buku ini menyajikan sebuah episode yang nyata, yang diangkat dari peristiwa yang pernah terjadi di Kartasura di masa pemerintahan Kanjeng Sunan Pakubuwana. Di dalam cerita itulah secara tidak langsung disisipkan nasihat tentang cara-cara memegang kendali pemerintahan yang sempurna.
Transliterasi Sujarah Para Wali lan Para Nata II merupakan lanjutan dari transliterasi sebelumnya. Awal teks (XVII. Asmaradana) (1)/Ki Ageng ngendika aris/mring kang putra Radyan Jaka/"Pondhongen arimu Angger, gawanenlengghah ing tilam"/...dan seterusnya.
Transliterasi Sujarah Para Wali lan Para Nata III ini merupakan lanjutan transliterasi sebelumnya. Awal teks (LVIII. Sinom) (1) /Sayo ngaso mring pondhokan/sagung kang para dipati/putranira Pecat Tandha/...dan seterusnya.
Dalam transliterasi Serat Lokapala ini diceritakan mulai dari silsilah Bathara Wisnu dan cerita diakhiri sampai dengan Dasamuka akan menaklukkan raja, yaitu ksatria di muka bumi agar mau menyembah kepadanya.