Dalam penelitian itu dideskripsikan hubungan ideologi dan pandangan estetika para penyair kelahiran Yogyakarta dan aspek-aspek yang terkait dengan sistem puisi Indonesia di Yogyakarta sepanjang periode 1945--1965.
Buku ini menyajikan sebuah episode yang nyata, yang diangkat dari peristiwa yang pernah terjadi di Kartasura di masa pemerintahan Kanjeng Sunan Pakubuwana. Di dalam cerita itulah secara tidak langsung disisipkan nasihat tentang cara-cara memegang kendali pemerintahan yang sempurna.
Di dalam buku itu terkandung nasihat bagai para raja agar dapat memegang kembali pemerintahan dengan sempurna.
Diceritakan mulai dari Tumenggung Wiraguna setelah menaklukan Pati dan cerita diakhiri sampai dengan Tumenggung Wiraguna dibuang ke Ngayah. Naskah itu juga berisi: Serat Rajaputra, Serat Suluk Tekawerdi, Serat Pepali Ki Ageng Sela, Serat Sastra Gendhing, Serat Suluk Asthabrata, Serat Gembring Baring, Serat Nitisruti, Serat Suluk Pandhayangan, Serat Piwulang Palakrama, Serat Suluk Sidanglamong, …
Serat Purwakandha 1 merupakan petikan dari naskah Serat Purwakandha. Awal teks: Pupuh ke-1 Asmaradana halaman 1 //Tatkala wiwit tinulis/siyang wanci pukul tiga/ing dinten Jumungah Kliwon/tanggalira ping sangalas/...dan seterusnya.
Buku ini berisi keterangan-keterangan yang baku mengenai kata/istilah dalam pemakaian bahasa Jawa.
Buku terjemahan itu berisi tentang cerita pewayangan, yaitu perang saudara antara kurawa dan pandawa.
Ensiklopedi Kesastraan Jawa